Ke sana kemari

7 11 2009

Jika dirunut apa yang telah aku lakukan, maka banyak hal yang bisa dibilang sebenarnya tidak linear. Segala sesuatunya bukanlah atas rancangan yang matang, bukan berangkat dari pijakan-pijakan yang tertata rapi.

Bicara soal cita-cita, pernah saya posting disini saya tak pernah berkeinginan untuk menjadi seorang guru. Betapa tidak, jalur pendidikan yang saya tempuh adalah ilmu murni, fakultas Biologi jauh sekali dengan dunia pendidikan. Semasa kuliah saya enjoy dengan mata kuliah-mata kuliah yang tak banyak memerlukan hafalan, apalagi kalau materinya langsung nyambung ke dunia pertanian, sangat oke. Sedangkan ilmu-ilmu dasar yang banyak menggunakan bahasa latin, susahnya luar biasa, sehingga tak jarang cukup puas tak harus mengulang mata kuliah yang sama.

Untuk menopang biaya kuliah saya jadi tukang jaga rental, karena tak mau terlalu membebani orang tua. Sangat terbantu memang, setidaknya untuk biaya penelitian hingga wisuda saya tidak pernah meminta tambahan apapun kepada orang tua selain apa yang diberikan. Efek krisis moneter (1997) yang menyebabkan kebutuhan pokok melonjak drastis pun tak membuat saya ingin meminta tambahan. Biarlah saya berusaha sendiri.

Menjelang wisuda iseng-iseng menulis cerpen dan saya kirim ke Radar Banyumas, alhamdulillah hanya selang beberapa hari sudah nongol di Hari Minggu. Sebuah tulisan yang bagi teman-teman waktu itu adalah sebuah kejutan luar biasa.

Seperti air mengalir tahun 2001 tanpa ada rencana yang matang masuk ke dunia pendidikan. Kembali berkutat dengan ilmu-ilmu pasti. Memang saya lulusan Biologi tapi amanah yang harus saya lakukan bukan menjadi pengajar biologi. Saya harus belajar kembali pelajaran matematika dan kimia. Amanah ini berakhir Desember 2004.

Air itu terus saja mengalir. Pindah dari satu tempat ke tempat lain masih juga dalam bingkai dunia pendidikan. Dari satu pesantren yang hanya mengurusi sekolah menjadi semakin jauh masuk. Terlibat pula dalam pembinaan santri.

Kesukaanku menulis semakin mendapat tempat. Dua tahun yang lalu secara resmi Husnul Khotimah menerbitkan majalah internal. Muncul tambahan kewajiban setiap bulannya. Mulailah aktifitas baruku menjadi tukang obrak-abrik huruf dan sampai saat ini baru satu teman blog yang pernah saya mintai bantuan untuk melengkapi tugas-tugasku yaitu Bundo kita sang pemilik ladang ilalang.

Pernah pula saya sampaikan kepada Pak Wandi yang sebenarnya adalah tetangga kabupaten bagi saya, namun belum pernah kopdar juga, bahwa saya telah minta pensiun dari  ngajar matematika, bukan karena tak suka, akan tetapi khawatir terlalu banyak kewajiban yang harus saya lakukan nanti imbasnya teman-teman bloger tak lagi mengunjungiku. Karena saya tak sempat posting lagi.

Mengenai puisi-puisi yang mendominasi blog saya ini sebagian besar adalah puisi-puisi lama, saya tuliskan disela-sela pekerjaan saya sebagai tukang ketik. Banyak yang kalau saya membacanya mengingatkan kembali rentetan peristiwa yang telah saya lalui di Purwokerto dan sekitarnya. Ya, lebih dari sepuluh tahun perjalanan hidupku ada di sana.





LIARNYA ANGAN

2 11 2009

ingatan-ingatan selalu saja berloncatan
melebihi gelombang meraup karang
mengatasi gedung-gedung menjulang
kangkangi mata elang menyisir mangsa
tak peduli tik tak jarum waktu berlarian
padu harmoni alam

menjaring rembulan dibalik cemara
lampu-lampu jalanan berkedipan
mengejar kunang-kunang di musim
kehujanan atau bongkahan tanah
bertelau saat kemarau
purnama membawa keriangan sepermainan
berkejaran, dolanan jamuran
ayo, jamur opo, jamur opo saiki
jamur kethek menek, jamur kayu

jarum-jarum waktu
berkelojotan, berlarian
sekelebat meyambar puing-puing
pasar kecamatan yang hangus terbakar
dendam anak bajang luluhlantakkan kampung
hinggap di kemacetan lalu lintas ibukota
penuh serapah

sekali terdiam
tepekur ternyata mendengkur

Pwt, 2000





Redaktur Kejam

29 10 2009

Tak jarang dalam acara talk show para penulis, pembicara atau kadang peserta menyampaikan statemen tentang kejamnya sang redaktur. Benarkah redaktur itu kejam?

Joni Ariadinata yang pernah ratusan kali ditolak oleh redaktur yang kini adalah redaktur majalah Sastra satu-satunya di negeri ini (waktu itu di Solo tepatnya acara peluncuran kumpulan cerpen: Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf) mengatakan bahwa sebagian besar naskah yang masuk ke meja redaksi berlanjut ke tong sampah. Berarti benar kan redaktur itu kejam.

Nanti dulu, jangan terburu-buru untuk meluapkan kemarahan. Postingan ini saya buatpun untuk meregangkan ototo-otot sedikit meninggalkan file-file yang harus diobrak-abrik.

Kenapa banyak tulisan yang berakhir di tong sampah? Apa memang tulisan sampah?

Coba bayangkan berapa banyak naskah yang numpuk di meja redaksi semacam Horison, ribuan naskah sobat. Mau dimuat semua jelas tidak mungkin, ruangnya sangat terbatas. Lalu yang itu tadi, masuk tong sampah. Beda pula dengan media kecil yang peredarannya sangat terbatas, dengan oplah tak sampai 2500 exemplar. Naskah yang masuk bisa dibilang tak sampai ujung jari habis untung menghitungnya. Permasalahannya bukan pada banyaknya naskah yang masuk, tapi dengan terbatasnya naskah yang masuk, maka redaktur terutama si tukang obrak-abrik harus super kreatif.

Kalau Pak Ahmadun Yosi Herfanda pernah menolak tulisan Seno Gumira Ajidarma karena terlalu panjang, gampang saja karena masih ada alternative tulisan lain yang tak perlu banyak mengurangi huruf. Lha ini penulisnya local, tulisannya jarang yang sesuai dengan kolom yang ada. Halaman untuk majalah jelas terbatas, tidak bisa ditarik ulur seperti halaman web. Maka kesan kejam tak terelakkan, benar-benar naskah yang kedodoran diobrak-abrik. Potong sana potong sini agar pas. Tak jarang naskah yang masuk hampir dua kali lipat yang seharusnya, jadi kalau kemudian ada beberapa alinea yang tidak utuh atau malah ada yang dihilangkan sama sekali maka jangan marah-marah pada redaktur. Redaktur juga manusia.

Ambil saja hikmahnya, tulisan yang tidak dilirik oleh redaktur bukan berarti tulisan sampah, meskipun nasibnya masuk tong sampah. Ada banyak kemungkinan yang terjadi, mungkin ya itu tadi tidak sesuai ukurannya (kurang panjang atau terlalu panjang), tema yang diambil tidak sesuai dengan misi media yang kita kirimi naskah, atau bahkan temanya sudah usang. Jika bukan karena yang terakhir maka masih ada peluang ke media yang lain.

Sekian dulu, mau kembali ngobrak-abrik huruf.





MENANTI BAYANG

24 10 2009

senja berkelebat menjaring rembulan pucat pasi
menatap langit di batas ufuk menapaki awan tanpa pijakan

beban mendesak di dada menyeruak
entah bahasa apa lagi yang menyapa
tak ada kata, tak ada gumaman
kembali kutekuk wajah bisuku
nyatakan rasa tak lagi kuketahui
kapan terjadinya, kapan berakhirnya

menatap bayang di batas maghrib
tersamar tubuh sendiri gigil
pelan kuketuk pintu kenyerian
berderak lambat, pekat menyembulkan
nafas. satu tarikan kuat tapi berat

entah bahasa apa lagi yang menyapa
di pematang hati yang meraup sepi

masih adakah sunyi itu?

2000





ILUSI

17 10 2009

penantian-penantian panjang
antara khayal dan alam nyata
dunia seakan mimpi belaka
terasa makin mencekam
kegalauan menguasai diri

malam ini kukatakan rindu
tak ada sahutan angin
membeirku kesejukan
hanya seonggok kepasrahan
teman setia bersama mimpi

nurani membawa diri
menyendiri dalam kebisuan
bersama tembang angin malam
kupasrahkan semuanya padaMu

2000





RUMPUN PADI

7 10 2009

Sastro memandangi perbukitan dengan perasaan cemas. Hujan sejak sore tadi serasa tak mau bersahabat. Padahal tengah malam telah lewat. Hujan begitu lebat, kadang ditingkahi suara gelegar petir menyambar-nyambar membelah angkasa memekakkan telinga dengan loncatan bunga api listrik yang menyilaukan mata.

Di lereng bukit sana Sastro menggantungkan hidup. Sepetak sawah penuh tangkai padi yang tadinya menghijau subur telah mulai menampakkan hasilnya entah kini apa jadinya. Angin keras menampar jendela berderak. Pepohonan di luar menggigil tak lagi tegak, bahkan ada beberapa yang tumbang. Air hujan menyusup lewat sela-sela dinding bambu yang memang sudah banyak bolongnya di sana sini, genting yang tak lagi mampu menampung luapan air hujan yang juga sudah tak ada lagi bentuknya. Malam berselimutkan gigil.

Sementara itu ketiga anaknya merapat di dipan pucat kecemasan, ketakutan mendengar gelegar petir yang tak seperti biasanya. Alam benar-benar sedang tak bersahabat. Istrinya menemani dalam ketermanguan.

“Anak-anak, sekarang istirahatlah, usahakan bisa tidur nyenyak, besok pagi-pagi sekali kita harus bergegas.” Sastro berkata kepada ketiga anaknya lebih nampak sebagai gumaman.

Tak ada satupun anak-anak itu yang menjawab kecuali kian merapatkan selimut usang masih dalam kecemasan. Apa yang bisa diberikan pada anak istrinya bila ternyata esok paginya tak lagi ditemui rumpun padi yang menghijau itu. Padahal jika tak ada musibah maka bulan depan padi itu telah menguning.

Tak biasanya musim begitu ganas. Ia berharap dalam hati semoga padinya masih terselamatkan. Meski tidak semunay. Tapi barang sedikit cukup lumayan untuk diberikan pada anak istrinya. Karena dari situlah satu-satunya sumber penghasilan. Ia berusaha melongok jauh kea rah perbukitan dengan harapan dapat melihat petak sawahnya. Sia-sia saja. Hujan lebat serta angin malam menghalangi pandangan. Malam begitu pekat. Batinnya tetap saja lekat pada sepetak sawah.

Sat-satunya yang bisa ia lakukan hanyalh memohon kepada Tuhan untuk melimpahkan kasih saying-Nya. Hujan segera reda. Padi tidak hancur oleh ganasnya alam.

* * *
Sastro bergegas menapaki pematang yang sebenarnya tidaklah begitu lebar. Tapi seolah berjalan di jalan raya. Sastro mempercepat langkah dengan nafas yang kian memburu. Diikuti dengan berlari-lari kecil, kadang melompat menghindari kubangan air, oleh kedua anak lelakinya yang belumlah begitu dewasa. Mentari timur belum nampak benar. Belum jelas beda antara benang merah dengan benang hitam. Sastro berkelebat bagai bayangan. Hatinya telah lekat pada rumpun padi miliknya. Ingin segera sampai ke petak sawah.

“Sogol, cepat Bantu bapak, kalau air ini tidak dibuang hancur padi kita”

Yang dipanggil Sogol tanpa menjawab segera turut serta membuat saluran dengan memotong pematang. Air segera mengalir cukup deras. Tadinya air rata dengan pematang, sepertiga tanaman padi terendam dalam genangan hujan. Adiknya turut serta membantu.

Air segera mengalir dengan kecepatan tinggi. Berangsur-angsur genangan surut, diikuti berkurangnya kecepatan aliran air. Sastro dibantu kedua anaknya berusaha memperlancar aliran air supaya genangan segera habis. Tanpa mempedulikan waktu yang kian beranjak ketiganya bekerja keras dengan harapan padi miliknya dapat terselamatkan. Bahkan mereka tidak menyadari sedikitpun bila hari itu matahari tak juga hadir. Tertutup awan tebal. Keringat mereka tetap saja bercucuran.

“Pak, di atas bukit itu..!” Sogol berteriak tak kesampaian. Dilihatnya puncak bukit bukan lagi hanya berawan tebal. Hujan mulai menderas. Pepohonan nampak penuh gigil. Dari kejauhan nampak adanya lontaran-lontaran yang tak begitu jelas seperti menuju perkampungan di mana salah satu rumah yang ada adalah milik mereka.

“Sudah, jangan berkeinginan untuk bermain di atas bukit. Sekarang Bantu bapak memberesi tanggul ini.”

“Pak..!”

“Jangan banyak omong. Jika tak segera kita selesaikan hancur padi kita tergenang semua. Selama tiga bulan kita tidak makan apa-apa.”

Tiba-tiba petir menyambar-nyambar penuh gelegar. Hujan segera mengguyur tubuh-tubuh itu tanpa peringatan. Air sungai sekitar limaratusan meter dari sawah mereka segera meluap.

“Pak, aku harus pulang menyelamatkan mak, sepertinya…” Sogol tanpa menyelesaikan kata-katanya segera melesat meninggalkan adik dan bapaknya. Sastro tercekat segera menyadari keadaan. Sogol kian mempercepat langkah. Tak lagi mempedulikan bapak dan adiknya. Sementara itu Sastro segera menyusul demi diingatnya sungai yang harus dilewati cukup deras arusnya. Sayang Satro terlambat. Sogol telah mencebur ke sungai begitu bapaknya tiba di bibir sungai.

“Sogol! Jangan teruskan! Kembali..”

Sia-sia Sastro memanggil-manggil. Sogol nekad menyeberang. Sekonyong-konyong dari hulu bah membesar kian pekat. Meluap hingga sungai tak mampu lagi menampungnya. Sawah-sawah kembali tergenangi tidak hanya oleh air tapi Lumpur pekat kecoklatan dan kerikil-kerikil banyak yang tersangkut. Praktis rumpun padi yang tersisa tak berbentuk lagi.

Sogol tersentak sedang berada di tengah-tengah. Kembali tak mungkin. Melanjutkan lebih susah. Tiba-tiba sebatang kayu menyodok tubuh Sogol hingga terjatuh. Sogol berusaha menggapai-gapai. Sastro tak mampu berbuat apa-apa. Terlalu banyak sudah air bah masuk mulut Sogol. Dan hilang.

“Sogol..! Sogol..di mana kau nak?”

Berulang-ulang Sastro berteriak memanggil-manggil. Ditunggunya terus hingga hujan mereda. Dipanggilnya terus hingga suara serak hilang ditelan suara arus air yang tak jauh lebih keras. Ditunggunya sampai hari beranjak malam ditemani anaknya yang kecil hingga bertemu pagi kembali. Hingga sungai benar-benar surut Sastro baru mneyadari bahwa ia telah kehilangan anaknya untuk selama-lamanya. Dengan langkah gontai anaknya yang tersisa digendong pulang. Sesampai di perkampungan Sastro hanya tinggal menemui puing-puing rumah yang telah hancur ditelan bah. Sisa-sisa air masih banyak menggenang.

Kini Sastro tidak sekedar kehilangan rumpun padi yang seharusnya meranum. Hari depannya telah hancur. Anak lelaki tertuanya hilang ditelan sungai yang mengganas. Tidak hanya itu istri dan anak bungsunya yang belum genap empat tahun tak jelas kemana. Kini hanya tinggal seorang anak. Tanpa rumah. Tanpa rumpun padi. Tanpa seorang istri.





Maafkan Aku Sobat

1 10 2009

Maafkan sobat semua. Bukan karena mudiknya yang kelamaan, tapi karena sinyal smart pinjaman yang saya pakai susah nyambungnya. Hari ini saya pakai fasilitas kantor dan baru nyambung dengan optimal.

Baiklah sedikit saya posting tentang perjalanan mudik saya. Kamis sore pukul 17.00 start dari bawah cermai menuju Jawa Tengah. Mampir di Pekalongan saat adzan maghrib, untuk berbuka dan jamak maghrib dan isya. Perkiraan sampai di Mojosongo tepat saat shalat subuh, kenyataannya alhamdulillah jam 2 sudah nyampai. Beristirahat sejenak hingga pukul 8 pagi perjalanan dilanjutkan ke Banyudono sekaligus mengantarkan ibu mertua ke anak lelakinya. Jam 10 pagi melanjutkan perjalanan ke ortu di Sambi. Sempat menginap 3 malam, satu malam masih merasakan makan sahur, selebihnya sudah idul fitri.

Lebaran hari ke dua melanjutkan perjalanan lagi ke kampungnya Pak Lik Embun menginap dua malam. Sempat pula jalan-jalan ke pemandian Tlatar memuaskan anak berendam meskipun airnya terasa dingin.

Hari Rabu ada acara pertemuan keluarga besar mertua di Salatiga. Kakak ipar yang saya tumpangi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Kuningan dari pada balik lagi ke Boyolali. Sampai di Tegal nyaris maghrib, sehingga perjalanan dihentikan lagi untuk menginap di kakak ipar yang lain.

Barulah keesokan harinya lanjutkan perjalanan. Secara umum perjalanan yang saya alami lancer-lancar saja, kemacetan hanya saya dengar dari berita tanpa mengalami sendiri, karena kemacetan diberitakan di jalur pantura sementara saya hari kamis sudah keluar dari jalur pantura melewati jalur tengah. Bersaing dengan para pengendara sepeda motor.

Untuk itu dengan amat sangat terlambat saya mengucapkan taqabalalaahu mina wa minkum mohon maaf atas segala khilaf kata perbuatan yang nyata, yang tersembunyi semoga terampuni oleh yang maha pengampun. Amin





MEMAKNAI ANGAN

5 09 2009

tinggal sepotong angan
yang kau sandarkan di hati
tak ada lagi pembicaraan
mengisi bilik-bilik telinga

biar tetap tak berpenghuni
aliran ingatan kan sampai
pada titik kulminasi kehampaan
entah kumaknai apa

kosong disana
bilakah damai menyapa?

Yogyakarta, 2000





Lingkar Tanah Lingkar Air

28 08 2009

Oleh: Sunarno

cover lingkar tanah lingkar airLingkar Tanah Lingkar Air adalah sebuah buku catatan sejarah menurut seorang sastrawan. Sebuah novel yang tidak merekam secara hitam putih siapa sebenarnya yang disebut dengan pemberontak. Ada alasan-alasan yang sangat kuat yang menyebabkan para tokohnya terseret dalam pertikaian sejarah. Bukan keinginannya sendiri untuk menjadi pemberontak, tetapi ada pihak-pihak yang justru mendorong para pelakunya untuk menyingkir yang kemudian bisa disematkan label pemberontak.
Novel ini bukanlah novel baru. Karya Ahmad Tohari setebal 114 halaman ini pertama kali diterbitkan oleh sebuah penerbitan di Purwokerto, yang kemudian diterbitkan ulang oleh LKiS Yogyakarta pada tahun 1999. Sebagaimana ciri khas tulisan Ahmad Tohari yang sangat kuat bertutur tentang suasana pedesaan, yang kali ini diramu dengan suasana belantara hutan jati yang terpencil dan asing.
Novel ini berkisah tentang sekelompok orang yang dipaksa untuk menjadi pemberontak terhadap republic. Padahal mereka itu para pejuang yang menamakan diri Hizbullah yang senantiasa membela tanah air dari penjajahan Belanda, bahu membahu dengan tentara republic di wilayah Banyumas dan sekitarnya.
Kisah tragis itu bermula ketika ada pengumuman resmi bahwa selain tentara resmi, diberi kesempatan untuk bergabung dengan tentara resmi dengan meninggalkan atributnya masing-masing karena peperangan melawan Belanda telah usai. Termasuk di dalamnya Laskar Hizbullah, disana ada Amid, Jun, dan Kiram.
Pagi-pagi ratusan anggota Hizbullah yang memilih melebur ke dalam tentara Republik berhimpun di suatu tempat di tepi rel kereta api. Malam sebelumnya ada informasi resmi, bahwa mereka akan diangkut dengan kereta api menuju Purworejo untuk dilantik resmi menjadi anggota tentara Republik. Jam sembilan pagi kereta api dating berjalan mundur dari arah Kebumen. Ketika kereta api mulai mendekat anggota Hizbullah dikagetkan oleh rentetan tembakan yang mengarah ke mereka. Tak jalan ada lain kecuali mempertahankan diri dengan membalas tembakan. Dengan perang kecil ini menyebabkan para anggota Hizbullah merasa dikhianati entah oleh siapa. Mereka pun percaya pastilah bukan tentara Republik yang sebenarnya, akan tetapi ada pihak-pihak lain yang dari kalangan pasukan republic yang berkhianat mencatut nama pasukan republic.
Hamper semua sepakat bahwa selama pihak ini yang tidak suka dengan keberadaan hizbullah adalah orang-orang komunis. Semua orang tahu bahwa pembersihan terhadap oknum-oknum itu, terutama setelah maker 1948 di Madiun, belum sempat dilaksanakan. Namun demikian rasa dikhianati begitu besar yang kemudian mengharuskan pasukan ini menyingkir. Ditambah lagi sehari berikutnya tentara Republik menyerang hingga anggota Hizbullah semakin tersingkir. Dari sinilah stigma pemberontak mulai disematkan. Tidak tempat aman untuk berlindung walau dikampung sendiri. Tak ada jalan kecuali menyingkir sejauh-jauhnya.
Sebuah pergulatan social, sejarah dan batin tokohnya yang berkepanjangan yang mengupas tentang pemberontakan yang tak pernah diinginkan akan tetapi harus dilakukan, karena adanya pihak-pihak yang tidak suka memanfaatkan nama republic untuk menyingkirkan Amid dan kawan-kawannya.
Ini adalah sebuah novel yang sangat penuh dengan ketegangan, para pelaku utamanya yang selalu terseret pada permasalahan yang tak pernah diinginkan. Ketika terpaksa jadi pemberontak pun tak ada celah untuk menyerah. Jangankan mendapatkan ampunan, untuk sekedar menyerahkan diri hidup-hidup saja tidak ada jaminan.
Lagi-lagi pihak komunis mengail di air keruh. Mereka membentuk gerakan siluman yang menyusup ke OPR. GS ini bermata dua ke Amid dan kawan-kawannya membuka permusuhan dengan menyerang habis-habisan demi merebut area hutan jati untuk mereka tebang. Sementara kea rah lain menggunakan nama kelompok Amid untuk melakukan perampokan-perampokan terhadap orang-orang dusun.
Dan novel ini tidak sebuah novel yang penuh romantika keindahan. Jadi bagi yang ingin menikmati keindahan kehidupan manusia tidak akan mendaptkan apa-apa. Bagi mereka yang ingin membaca keindahan bahasa tentang bagaimana suasana pedesaan novel ini cukup menjanjikan. Disisi lain tak kan ditemukan bahwa para pelakunya sepenuhnya happy ending, bahkan terkesan dari awal hingga akhir para tokohnya permasalahan yang tak jelas ujung pangkalnya, dan diakhiri dengan ucapan innalillahi.
Buku yang tidak begitu tebal ini layak dibaca bagi mereka yang ingin menyelami seperti apa sejarah itu jika ditulis dalam versi sastra. Meskipun realitas sastra kadang berbeda jauh dengan realitas sumber-sumber resmi.





Dieng Agustus

18 08 2009

perapian menyengat tinggal arang
asap mengukir kepalsuan angan
meliuk-liuk
bau kemenyan menyedak
aduh pengap
angin mendesak minta tempat

secangkir kopi tak lagi hangat
sebongkah jagung mampir ke
obrolan tak tentu asal bicara

atap langit tinggal sejengkal

berkelebat membalik senja
engkaukah itu?
yang bikin gigil cemara kaku
tak ada gerimis kadang bersalju

Purwokerto, 1998 – 2000