8, Desember 2009 oleh sunarnosahlan
catatan perjalanan terserak dalam
lembaran-lembaran usang
daun-daun kering melambai
menanti turunnya hujan
mengumpul setia
membusuk
membentuk bunga tanah
potongan-potongan perjalanan
terserak di sembarang tempat
juga sembarang waktu
terekam dalam memori sebagian
membaca lembaran perjalanan
helai demi helai yang terlewati
menelisik kembali ayunan langkah
perjalanan kehidupan
demi satu kata
cinta
ya, hanya karena cinta
perjalanan diayunkan
catatan dibentangkan
menelaah kembali
catatancatatan perjalanan
nilai waktu dan jarak terlewati
ya, hanya satu kata
cinta
cinta tak berbatas hanyalah
milik sang pemberi cinta
Kuningan, 8/12 2009
(Akhirnya bisa juga membuat puisi dengan melibatkan kata cinta, meski ini tak begitu lazim demi memenuhi undangan sesepuh kita Pak De Abdul Chalik)
Ditulis dalam obrolan santai, puisi, uneg-uneg | Bertanda menepi, santai, sekedar uneg-uneg | 32 Komentar »
3, Desember 2009 oleh sunarnosahlan
Apapun panggilannya dia tetaplah ibuku. Seorang wanita yang sangat bersahaja. Bukan saudagar kaya bukan pula tokoh penting dalam masyarakat. Ibuku adalah ibu rumah tangga yang sejak aku duduk di bangku kelas 3 SD haruslah menjalani hidup sebagai single parent.
Aku bangga kepada ibu, ketika ayah meninggalkan kami semua, kesedihan ibu serasa sangat wajar. Tak ada tangisan pilu. Apalagi raungan kehilangan. Dan hari itu akulah yang paling dekat dengan ibu, bahkan menurut penuturan ibu sendiri, beliau tegar karena melihatku lebih tegar, menerima sebuah kehilangan dengan amat wajar. Memang kami menyadari sepenuhnya bahwa manusia itu pasti akan kembali pada yang menciptakan. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Pemahaman kami, kalau kami bersedih, justru akan memberatkan beban ayah di alam lain. Kami tak ingin memberati ayah di alam barzah. Jangan heran sekecil itu aku sudah berpemikiran seperti itu. Sebenarnya aku sekolah di SD hanya tiga hari saat EBTANAS saja, sedangkan yang 6 tahun penuh aku lewati di Madarasah. Jadi setelah aku lulus mempunyai dua ijazah SD dan MI.
Tak ada pendidikan formal yang pernah dilalui oleh ibuku. Sejak kecil sudah mencari nafkah membantu nenek menopang kebutuhan keluarga, sehingga efeknya ibuku satu-satunya di keluarganya yang buta huruf, tidak dengan bibi dan pakdeku yang sedikit sedikit bisa membaca huruf latin dan huruf arab.
Meskipun ibuku buta huruf, namun tak ingin anak-anaknya juga mengalami hal yang sama. Semua anak-anaknya disekolahkan. Maka ketika aku mohon doa restu mengikuti seleksi ke perguruan tinggi langsung diiyakan. Tak terbayang berapa ongkos yang harus dikeluarkan hingga tuntas sebagai sarjana. Akupun tahu diri, tak ada keinginan ke perguruan tinggi favorit macam UGM, apalagi UI. Aku pilih UNS dan UNSOED, dengan pertimbangan UNS hanya tetangga kabupaten, sedangkan UNSOED SPP nya paling rendah di antara PTN se Pulau Jawa. Juga biaya hidup yang murah. Dan takdir menuntunku ke bawah Gunung Slamet menimba ilmu biologi.
Maka menjelang akhir studi aku berusaha mencari tambahan agar beban yang harus ditanggung oleh ibu tak terlalu berat. Kuupayakan tak ada permintaan tambahan untuk menyelesaikan studi. Biarlah berjalan apa adanya. Kalau dikasih aku terima, kalau tidak biarlah aku usahakan sendiri.
Kini diusianya yang sudah tua, dengan dua orang buyut, akulah anak yang paling jauh secara geografi. Semua kakak-kakakku tinggal satu kampung dengan ibu, sedangkan aku merantau ke lain propinsi.
Tak lepas doa kupanjatkan agar ibuku selalu sehat wal afiat. Diusianya yang lebih dari 70 tahun ini dalam keadaan yang damai, bersama anak cucu. Hanya doalah yang paling sering aku kirimkan, kehadiran fisik tak mungkin bisa sering kulakukan mengingat jarak yang pasti memerlukan ongkos yang tidak sedikit. Sementara itu akupun ada kewajiban dengan adanya istri yang mendampingiku dan seorang anak yang sudah mulai belajar membaca dan menulis.
Apapun panggilannya dia tetaplah ibuku. Apakah itu mama, ibu, mak, umi, simbok, dia tetaplah ibuku, yang telah melahirkanku dan keempat kakak-kakakku.
(postingan kali ini didedikasikan memenuhi undangan Kyai Guskar)
Ditulis dalam boyolali, jawa, kampung halaman, kenang-kenangan, obrolan santai, uneg-uneg | Bertanda artikel, auto kritik, kenang-kenangan, menepi, santai, sekedar uneg-uneg | 70 Komentar »
30, November 2009 oleh sunarnosahlan

Buku ini memuat sebanyak 15 bab. Bab yang paling banyak diulas orang adalah bab IV Survival of The Fittest yang mengulas tentang proses seleksi alam.
Bab favorit saya ada di Bab VI Dificullty of Theory, yang mengulas titik lemah teori yang dimaksud dan ada dua hal yang menurut saya unik yaitu: mengapa kita tidak melihat banyak bentuk transisi dimana-mana? dan yang kedua: dapatkah insting diperoleh melalui seleksi alam?
Edisi aslinya saya tidak tahu, yang ada disaya ini setebal xi halaman pembukaan dan 647 isi.
Ditulis dalam biologi, kenang-kenangan, obrolan santai, uneg-uneg | Bertanda biologi, darwin, evolusi, kenang-kenangan, obrolan santai, sekedar uneg-uneg, tokoh | 50 Komentar »
26, November 2009 oleh sunarnosahlan
lalu langkah-langkah memapaki bebatuan
menampar keperihan nurani
alur sungai sepanjang nyanyian
bisikan keniscayaan
senja itu berkabut
membungkus bebatuan dionggokan nurani
gemuruh mendesak hingga ke kedalaman jiwa
tak tahu kapan pulang, tak tahu
kapan pergi
memang senja tak peduli entah kemana
senja itu bebatuan membisu
isak tangis kini membalut luka
yang kemaren tak kutemui
di tepi sungai itu hanyalah sunyi
kembali gembala berseruling bambu
entah sampai kapan gembala itu bisu
mengenang masa lalu tak perlu lagi
kuhidangan segenggam kebisuan nurani
senja dalam diam kembali kutapaki jalan nurani
memanggil-manggil keheningan
meniup angin sampai seruling teriak
nyanyian gembala itu kembali
Purwokerto, 8/99/saat kuresah
Ditulis dalam fiksi, kenang-kenangan, obrolan santai, puisi, senja, uneg-uneg | Bertanda kenang-kenangan, menepi, obrolan santai, puisi, sekedar uneg-uneg | 42 Komentar »
22, November 2009 oleh sunarnosahlan
jelaga mengental di pucuk cemara
langkah-langkah lalu entah kemana
mengail di kehujanan alur serayu
kembali membawa nyanyian ilalang
membangun tenda tanpa tiang
di tengah ladang
hujan pagi itu,
semua bergegas, semua beranjak
kembali kubisikkan, mungkin teriak
kemana, kemana larinya angin
kemana perginya bocah-bocah kemaren
sedang hujan tetap gerimis
nyanyikan tik tak bau amis
yang hanyutkan mayat-mayat peradaban
yang tenggelamkan nyanyian malam
hingga gerimispun tiris
Purwokerto, 29/8/99
Ditulis dalam fiksi, kenang-kenangan, puisi, uneg-uneg | 36 Komentar »
18, November 2009 oleh sunarnosahlan
sebulan belum juga genap
ditinggal mati, mengerat tanah
membesut nadi kerabat sendiri
hari tak sampai senja membakar emosi
orang sekampungpun gerah
menggores cakrawala sempit
puasi diri yang haus dunia
tak peduli orang darah resah
kerabat jadi laknat
saudara tak lagi saudara
famili kini tinggal mimpi
sahabat cuma diri sendiri
terpuasi entah atau
mau mati?
Boyolali, 4/3/98
Ditulis dalam fiksi, kenang-kenangan, puisi, uneg-uneg | Bertanda ilusi, kenang-kenangan, puisi, sekedar uneg-uneg | 36 Komentar »
12, November 2009 oleh sunarnosahlan
meninggalkan senja di beranda
tanpa sepotong bintang
juga bulan
pepohonan kaku bisu
tanpa percakapan malam
kolam tak kalah bisu
peluh tiada henti
menganak sungai
Kng, 12 Nop 09
Ditulis dalam fiksi, kenang-kenangan, penantian, puisi, senja, uneg-uneg | Bertanda menepi, puisi, santai, sekedar uneg-uneg | 38 Komentar »
7, November 2009 oleh sunarnosahlan
Jika dirunut apa yang telah aku lakukan, maka banyak hal yang bisa dibilang sebenarnya tidak linear. Segala sesuatunya bukanlah atas rancangan yang matang, bukan berangkat dari pijakan-pijakan yang tertata rapi.
Bicara soal cita-cita, pernah saya posting disini saya tak pernah berkeinginan untuk menjadi seorang guru. Betapa tidak, jalur pendidikan yang saya tempuh adalah ilmu murni, fakultas Biologi jauh sekali dengan dunia pendidikan. Semasa kuliah saya enjoy dengan mata kuliah-mata kuliah yang tak banyak memerlukan hafalan, apalagi kalau materinya langsung nyambung ke dunia pertanian, sangat oke. Sedangkan ilmu-ilmu dasar yang banyak menggunakan bahasa latin, susahnya luar biasa, sehingga tak jarang cukup puas tak harus mengulang mata kuliah yang sama.
Untuk menopang biaya kuliah saya jadi tukang jaga rental, karena tak mau terlalu membebani orang tua. Sangat terbantu memang, setidaknya untuk biaya penelitian hingga wisuda saya tidak pernah meminta tambahan apapun kepada orang tua selain apa yang diberikan. Efek krisis moneter (1997) yang menyebabkan kebutuhan pokok melonjak drastis pun tak membuat saya ingin meminta tambahan. Biarlah saya berusaha sendiri.
Menjelang wisuda iseng-iseng menulis cerpen dan saya kirim ke Radar Banyumas, alhamdulillah hanya selang beberapa hari sudah nongol di Hari Minggu. Sebuah tulisan yang bagi teman-teman waktu itu adalah sebuah kejutan luar biasa.
Seperti air mengalir tahun 2001 tanpa ada rencana yang matang masuk ke dunia pendidikan. Kembali berkutat dengan ilmu-ilmu pasti. Memang saya lulusan Biologi tapi amanah yang harus saya lakukan bukan menjadi pengajar biologi. Saya harus belajar kembali pelajaran matematika dan kimia. Amanah ini berakhir Desember 2004.
Air itu terus saja mengalir. Pindah dari satu tempat ke tempat lain masih juga dalam bingkai dunia pendidikan. Dari satu pesantren yang hanya mengurusi sekolah menjadi semakin jauh masuk. Terlibat pula dalam pembinaan santri.
Kesukaanku menulis semakin mendapat tempat. Dua tahun yang lalu secara resmi Husnul Khotimah menerbitkan majalah internal. Muncul tambahan kewajiban setiap bulannya. Mulailah aktifitas baruku menjadi tukang obrak-abrik huruf dan sampai saat ini baru satu teman blog yang pernah saya mintai bantuan untuk melengkapi tugas-tugasku yaitu Bundo kita sang pemilik ladang ilalang.
Pernah pula saya sampaikan kepada Pak Wandi yang sebenarnya adalah tetangga kabupaten bagi saya, namun belum pernah kopdar juga, bahwa saya telah minta pensiun dari ngajar matematika, bukan karena tak suka, akan tetapi khawatir terlalu banyak kewajiban yang harus saya lakukan nanti imbasnya teman-teman bloger tak lagi mengunjungiku. Karena saya tak sempat posting lagi.
Mengenai puisi-puisi yang mendominasi blog saya ini sebagian besar adalah puisi-puisi lama, saya tuliskan disela-sela pekerjaan saya sebagai tukang ketik. Banyak yang kalau saya membacanya mengingatkan kembali rentetan peristiwa yang telah saya lalui di Purwokerto dan sekitarnya. Ya, lebih dari sepuluh tahun perjalanan hidupku ada di sana.
Ditulis dalam kenang-kenangan, obrolan santai, uneg-uneg | Bertanda auto kritik, kenang-kenangan, menepi, obrolan santai, radar banyumas, santai, sekedar uneg-uneg | 24 Komentar »
2, November 2009 oleh sunarnosahlan
ingatan-ingatan selalu saja berloncatan
melebihi gelombang meraup karang
mengatasi gedung-gedung menjulang
kangkangi mata elang menyisir mangsa
tak peduli tik tak jarum waktu berlarian
padu harmoni alam
menjaring rembulan dibalik cemara
lampu-lampu jalanan berkedipan
mengejar kunang-kunang di musim
kehujanan atau bongkahan tanah
bertelau saat kemarau
purnama membawa keriangan sepermainan
berkejaran, dolanan jamuran
ayo, jamur opo, jamur opo saiki
jamur kethek menek, jamur kayu
jarum-jarum waktu
berkelojotan, berlarian
sekelebat meyambar puing-puing
pasar kecamatan yang hangus terbakar
dendam anak bajang luluhlantakkan kampung
hinggap di kemacetan lalu lintas ibukota
penuh serapah
sekali terdiam
tepekur ternyata mendengkur
Pwt, 2000
Ditulis dalam kenang-kenangan, puisi, uneg-uneg | Bertanda ilusi, puisi, santai, sekedar uneg-uneg | 31 Komentar »
29, Oktober 2009 oleh sunarnosahlan
Tak jarang dalam acara talk show para penulis, pembicara atau kadang peserta menyampaikan statemen tentang kejamnya sang redaktur. Benarkah redaktur itu kejam?
Joni Ariadinata yang pernah ratusan kali ditolak oleh redaktur yang kini adalah redaktur majalah Sastra satu-satunya di negeri ini (waktu itu di Solo tepatnya acara peluncuran kumpulan cerpen: Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf) mengatakan bahwa sebagian besar naskah yang masuk ke meja redaksi berlanjut ke tong sampah. Berarti benar kan redaktur itu kejam.
Nanti dulu, jangan terburu-buru untuk meluapkan kemarahan. Postingan ini saya buatpun untuk meregangkan ototo-otot sedikit meninggalkan file-file yang harus diobrak-abrik.
Kenapa banyak tulisan yang berakhir di tong sampah? Apa memang tulisan sampah?
Coba bayangkan berapa banyak naskah yang numpuk di meja redaksi semacam Horison, ribuan naskah sobat. Mau dimuat semua jelas tidak mungkin, ruangnya sangat terbatas. Lalu yang itu tadi, masuk tong sampah. Beda pula dengan media kecil yang peredarannya sangat terbatas, dengan oplah tak sampai 2500 exemplar. Naskah yang masuk bisa dibilang tak sampai ujung jari habis untung menghitungnya. Permasalahannya bukan pada banyaknya naskah yang masuk, tapi dengan terbatasnya naskah yang masuk, maka redaktur terutama si tukang obrak-abrik harus super kreatif.
Kalau Pak Ahmadun Yosi Herfanda pernah menolak tulisan Seno Gumira Ajidarma karena terlalu panjang, gampang saja karena masih ada alternative tulisan lain yang tak perlu banyak mengurangi huruf. Lha ini penulisnya local, tulisannya jarang yang sesuai dengan kolom yang ada. Halaman untuk majalah jelas terbatas, tidak bisa ditarik ulur seperti halaman web. Maka kesan kejam tak terelakkan, benar-benar naskah yang kedodoran diobrak-abrik. Potong sana potong sini agar pas. Tak jarang naskah yang masuk hampir dua kali lipat yang seharusnya, jadi kalau kemudian ada beberapa alinea yang tidak utuh atau malah ada yang dihilangkan sama sekali maka jangan marah-marah pada redaktur. Redaktur juga manusia.
Ambil saja hikmahnya, tulisan yang tidak dilirik oleh redaktur bukan berarti tulisan sampah, meskipun nasibnya masuk tong sampah. Ada banyak kemungkinan yang terjadi, mungkin ya itu tadi tidak sesuai ukurannya (kurang panjang atau terlalu panjang), tema yang diambil tidak sesuai dengan misi media yang kita kirimi naskah, atau bahkan temanya sudah usang. Jika bukan karena yang terakhir maka masih ada peluang ke media yang lain.
Sekian dulu, mau kembali ngobrak-abrik huruf.
Ditulis dalam obrolan santai, penantian, uneg-uneg | Bertanda artikel, artikel penulisan, auto kritik, menepi, obrolan santai, santai, sekedar uneg-uneg | 35 Komentar »
Tulisan Sebelumnya »