Feeds:
Tulisan
Komentar

TANGAN UNTUK UTIK

Buku ini saya peroleh dari acara kemeriahannya kutubacabukunya adityahadi memposisikan saya pada deretan kedua Top Komentator setelah Mas Isro.

Tangan Untuk Utik adalah judul kumpulan cerpen karya Bamby Cahyadi yang berisi 13 judul, salah satu diantaranya diambil sebagai judul buku: TANGAN UNTUK UTIK. Buku setebal 133 + vii halaman ini diterbitkan penerbit Kokoesan Yogyakarta. Secara umum bercerita tentang keseharian manusia yang diramu menjadi realitas yang bertolak belakang, semacam parody. Kritikan sangat pedas tentang makna mencintai tanah air dituangkan dengan apik pada bendera Itu Tak Berkibar Disini.

Di pembuka disajikan Karyawan Tua yang kesehariannya dikenal supel, tak suka ada sampah secuilpun di tempat kerjanya dan tak malu untuk membersihkan seorang diri meskipun dia adalah yang paling tua.  Selentingan yang beredar bahwa karyawan tua itu memiliki keluarga yang harmonis dengan anak cucunya namun tak ada seorangpun yang pernah bertemu dengan keluarganya itu. Kejutan yang tak terduga ternyata karyawan tua itu mengakhiri hidupnya dengan sebutir peluru disaat-saat detik terakhir menuju pensiun. Keganjilan yang sulit dilacak nalar.  Ternyata di rumah Karyawan Tua tak ada seorangpun yang menghuni kecuali beberapa manekim dengan jumlah yang sama persis dengan jumlah keluarga yang pernah menjadi pembicaran di kantor.

Tangan Untuk Utik, yang diambil untuk judul buku berkisah hubungan dua orang manusia yang sangat karib dari kecil kemudian terpisahkan jarak dan mencoba merekatkan kembali. Utik terlahir tanpa keduaq tangan. Dan juga tanpa kasih sayang kedua orang tuanya yang entah kemana. Si Aku selalu ingin menyenangkan Utik dan berkeinginan kuat untuk memberikan dua buah tangan untuk Utik berbagai cara ditempuh. Ketika bermain menjulurkan tangannya didepan Utik seolah-olah Utikl;ah yang menggerakkan, hingga berpikiran bagaimana kalau tangan kirinya dipindahkan ke tangan Utik, setidaknya masing-masing memiliki satu tangan. Ayah si Aku harus pindah tempoat kerja yang mengharuskan pula berpisah dari Utik dalam jangka yang tak tentu. Si Aku setekah dewasa datang ke kampung lama dengan tujuan memberikan sepasang tangan untuk Utik, tentu berbeda dengan saat masih kanak-kanak. Kali ini ternyata yang ditemui tidak hanya Utik seorang namun ada dua anak kecil yang menyertai Utik yang kemudian dikenalkan sebagai anak Utik sekaligus sebagai tangan kanan dan tangan kiri bagi Utik.

Rencana Bunuh Diri benar-benar menggelitik. Seseorang yang ingin bunuh diri tapi ingin matinya dengan damai. Dipilhlah berbagai cara untuk bunuh diri mulai menenggak racun, gantung diri, menyerahkan diri di rel kereta api. Semua pilihan itu malah membuatnya mundur yang oleh temannya justru dikatakan sebenarnya ia takut mati. Di akhir kisah ia sukses mati dengan damai karena kehabisan energy tak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. Yang diawali dengan lemas dn capai yang luar biasa.

Dan masih ada cerita-cerita yang lain yang tak kalah uniknya.  Tameng Untuk Ayah, adalah pengorbanan seorang anak karena cintanya pada sang ayah (setting Palestina) menghadang berondongan peluru Israel agar ayahnya tetap hidup.

Dst, silahkan dilanjutkan sendiri .

TAK ADA LAGI CINTA

Lelaki itu berlari dan terus berlari. Mengejar bayang sendiri. Menapaki jejak-jejak kabut yang kian mengelam. Tersaruk jatuh bangun, menciumi bau anyir darah sendiri. Belantara kabut menyesak dada diterjang tanpa perhitungan. Luka memar telah Lanjut Baca »

DUA HURUF

hanya dua huruf tapi panjang
satu white board masih kurang
dua jam terhabiskan

diseling canda ria
bicara dua huruf
siapkan papan catur
garpu sebagai alternatif

kenapa dua huruf saja begini panjang
kenapa hanya dua huruf cukup lama
hanya dua huruf saja tak segera paham
cuma dua huruf menyita perhatian

ah Mendel, kau wariskan kata
dihibrid dengan fenotip dan genotip
menyiapkan garpu atau papan catur
nyatanya hanya dua huruf

kampung manis, 1 Pebruari 2010

BATURADEN

berendam air belerang
menghangatkan badan
hilangkan penat
di aliran pancuran tujuh
kemudian menikmati mendoan
selagi hangat plus pedasnya cabe

mengumpulkan tetumbuhan paku
di semester lima belajar tata nama
menghitung semut dalam koloninya
saat mengejar ilmu serangga
juga berkenalan dengan artona
si pemangsa daun kelapa

aku rindu menenggak badeg dingin
yang kini tinggal mimpi
mungkin para penderes nira tak sanggup lagi
memanjat ketinggian pohon kelapa
para penerus lebih suka
jualan nasi pecel di area wisata
tanpa resiko jatuh patah tulang

Kampung Manis, 30/1 10

KEPASTIAN BAYANG

menghitung hari bergelantungan
menusuk ubun-ubun
pada ujung kalender yang kian renta
dimakan usia jaman
membutakan sekilas roman

kembali merenda ingatan-ingatan
bayang berkelebatan beriringan
kalender berjatuhan satu-satu
di antara rerimbun kegamangan
kembali mengeja setiap jengkal percakapan
yang tak lagi punya makna
karena kepastian lebih berharga

hanya satu kata itu: tidak
akhirnya lupakan semua
tanpa segores luka

Pwt, 2000

Tiga Tanda Mata

Hari sabtu 23 Januari 2010 adalah hari yang unik bagi saya. Saat saya mengantar anak untuk memeriksakan ke rumah sakit ada SMS dari Satpam bahwa saya diminta segera mengambil paket. Saya pikir ini paket dari Pak De Cholik. Saya jawab akan saya ambil di malam hari.

Ternyata pihak rumah sakit tak mau memberikan penjelasan atas hasil rotgen anak saya, tapi dikembalikan ke siapa yang tadi memberikan rokemendasi, maka dari rumah sakit tak segera pulang tapi kembali ke klinik pesantren untuk menyerahkan hasil roentgen.

Alhamdulillah, kegembiraan itu bertambah. Anak tak ada masalah serius dengan hasil roentgen itu, juga ketika melewati pos satpam ternyata tidak hanya satu paket yang saya terima tapi tiga sekaligus.

Saya menerimanya dengan keheranan, betapa tidak paket dari tiga alamat yang berbeda dan yang jelas acara dan waktu berbeda, dua dari arah barat satu dari arah timur sampai di pos satpam berbarengan, entah paket-paket itu janjian bertemu dimana.

Rasa terima kasih saya ucapkan kepada Mas Adityahadi yang telah memberikan penghargaan atas posisi kedua top komentator dalam rangkaian 30 buah blog Patas AC

Yang kedua rasa terima kasih pada Pak De Cholik atas bingkisan kaos dorengnya (maaf Pak De, masih disimpan, belum juga dicoba) dan tidak ada fotonya.

Dan yang ketiga rasa terima kasih kali ini saya haturkan untuk 2 orang sekaligus yaitu Bundo dan Mas Agus Sukarno atas kiriman Lelaki Tua dan Laut

Hari ini buku-buku tersebut belum ada satupun yang saya baca, karena memang saya menerimanya kemaren sore dan saya posting dipagi ini.

DI BATAS URUNG

“Benarkah kau akan…?”

Pertanyaan yang tak pernah usai. Seribu tanya tak beranjak. Menyangsikan tekad yang memuncak. Meragukan langkah yang telah kuputuskan. Salahkah aku hendak membentangkan layar menata masa depanku sendiri. Haruskah aku Lanjut Baca »

Rasanya tak enak jika tak berbagi dengan para sahabat tentang berpuisi. Banyak sobat yang mengapresiasi sangat positif tentang puisiku  kenapa Lanjut Baca »

IKLAN

iklan-iklan berebut konsumen
dilayar kaca, majalah koran-koran
menjual mimpi-mimpi
etalase supermarket
menawarkan seribu janji
yang kian tak terjangkau
lebih karena gengsi

di pasar tradisional
tanpa harus baliho besar-besar
tetap ramai pembeli
yang tak membeli gengsi

Agustus 2000

Dapat Hadiah Buku

Kali ini lagi-lagi saya tidak berpuisi. Perlu mengabadikan kejadian langka yang seumur-umur tak pernah terbayangkan. Saya tiba-tiba ikut persaingan ketat untuk mendapatkan gelar  Top Komentator, padahal saya sudah jelas-jelas tak ada tampang juara. Tak pernah bermimpi atau berkeinginan kuat untuk menjadi nomor satu dalam hal apapun.

Ini Lanjut Baca »

Tergelitik oleh beberapa rekan blog yang meninggalkan jejak tentang puisi-puisi saya, maka rasanya perlulah sedikit saya mengapresiasi.

Perjalanan saya Lanjut Baca »

di beranda depan bercegkerama
tentang sebuah bangunan yang indah
dari sekumpulan kata-kata
mengalir begitu saja nyaris tanpa jeda
di sepanjang koridor jiwa

bahasa sajak
lewat saluran imajinasi
selalu saja mengalir kadang terasa deras
di antara sela-sela lukisan jari
menari-nari, meruang
hingga sebuah rumah
sajak berdiri tegak

rumah sajak meruang kata-kata
mengumpul dalam koridor jiwa

Pwt, 2000

Tulisan Sebelumnya »